SAPTA DHARMA
Di tembok rumah sang pendirinya, tiba-tiba muncul
gambar-gambar dan tulisan yang kelak menjadi lambang, nama, serta
ajaran-ajaran pokok Sapta Darma…
Bagi kalagan umum disebut aliran kebatinan, bagi penganut Sapta Darma
disebut ajaran kerokhanian. Diantara berbagai aliran kebatinan lain
yang ada di tanah air, umur Sapta Darma tergolong muda dan modern.
Meskipun sudah diakui pemerintah, namun hingga kini masih saja ada saja
yang masih mempermasalahkannya dengan berbagai tuduhan yang miring.
Apa yang salah dengan aliran Sapta Darma? Bukankah negeri ini
dasarnya adalah Pancasila dimana dalam sila pertamanya tercantum
Ketuhanan Yang Maha Esa dan aliran ini bahkan mewajibkan warganya
menyembah Tuhan yang satu, Allah Yang Maha Kuasa dan penganutnya
berkewajiban menjalankan hidupnya berdasarkan tujuh kewajiban suci
(darma), agar selamat hidup dunia dan akhirat.
Sapta Dharma bukanlah aliran sesat yang menyembah berhala dan meminum
darah musuh demi mendapatkan kesaktian, Sapta Darma adalah aliran yang
ingin agar penganutnya menjadi manusia yang berbudi luhur dan
Pancasilais.
Tapi, lihatlah banyak fakta yang terjadi dimana masyarakat yang
mengaku beragama tertentu menyerang para penganut aliran kebatinan
tersebut dengan berbagai dalih. Kenapa hingga kini berbagai aliran
kepercayaan/ aliran kebatinan itu masih dipandang sebelah mata? Bukankah
mereka tumbuh berkembang sebagai hasil interaksi manusia asli Indonesia
dengan alam dan Tuhan?
Sejarah adalah bukti bagaimana pemerintah kita mengakui eksistensi
berbagai aliran kebatinan di nusantara. Dimulai pada tanggal 19 dan 20
Agustus 1955 di Semarang diadakan kongres dari berpuluh-puluh aliran
kebatinan yang ada di berbagai daerah dilanjut dengan Kongres berikutnya
pada tanggal 7 Agustus 1956 di Surakarta dan dua kongres serta seminar
mengenai masalah kebatinan dalam tahun 1959, 1961 dan 1962.
Aliran kepercayaan/ kebatinan merupakan budaya lokal dengan anggota
yang jumlahnya berkisar antara 200 orang hingga ribuan orang. Yang
termasuk aliran kecil adalah berjumlah 200 orang misalnya PANCASILA
HANDAYANINGRATAN dari Surakarta; ILMU KEBATINAN KASUNYATAN dari
Yogyakarta; ILMU SEJATI dari Madiun; dan TRIMURTI NALURI MAJAPAHIT dari
Mojokerto, PENUNGGALAN, PERUKUNAN KAWULA MANEMBAH GUSTI, JIWA AYU dan
dan lain-lain.
Ada pula aliran kebatinan yang tergolong besar yang beranggotakan
lebih dari 1000 orang yang tersebar di berbagai daerah. Yang termasuk
aliran dengan banyak pengikut di antaranya HARDOPUSORO dari Purworejo,
Susila Budi Darma (SUBUD) yang asalnya berkembang di Semarang, Paguyuban
Ngesti Tunggal (PANGESTU) dari Surakarta, Paguyuban SUMARAH dan SAPTA
DHARMA dari yogyakarta.
HARDOPUSORO adalah yang tertua diantara kelima gerakan yang terbesar
itu, didirikan oleh Kyai KUSUMOWIDJITRO, seorang kepala desa di desa
Kemanukan, Purworejo pada tahun 1895. Ia menerima wahyu yang semula
disebut KAWRUH KASUNYATAN GAIB. Ajaran-ajarannya termaktub dalam dua
buah buku ynag oleh para pengikutnya sudah hampir dianggap keramat,
yaitu Buku KAWULA GUSTI dan WIGATI.
Susila budi (SUBUD) didirikan pada tahun 1925 di semarang, pusatnya
sekarang berada di jakarta. Mereka tidak menyebut diri sebagai aliran
kebatinan, melainkan “pusat latihan kejiwaan”. Anggota-anggotanya yang
berjumlah beberapa ribu itu tersebar di berbagai kota diseluruh
indonesia dan mempunyai sebanyak 87 cabang di luar negeri. Banyak dari
para pengikutnya adalah orang Asia, Eropa, Australia dan Amerika.
Doktrin ajaran organisasi itu dimuat dalam buku berjudul SUSILA BUDHI
DHARMA.
PAGGUYUBAN NGESTI TUNGGAL, atau lebih terkenal dengan nama PANGESTU
adalah sebuah budaya kebatinan lain yang luas jangkauannya. Gerakan ini
didirikan oleh Soenarto, yang di antara tahun 1932 dan 1933 menerima
wangsit yang oleh kedua orang pengikutnya dicatat dan kemudian
diterbitkan menjadi buku Serat Sasangka Jati.
Pangestu didirikan di surakarta pada bulan mei 1949, dan
anggota-anggotanya berkisar antara 50.000 orang tersebar di banyak kota
di Indonesia. Anggota yang berasal dari daerah pedesaan banyak yang
tinggal di pemukiman transmigrasi di Sumatera dan Kalimantan. Majalah
yang dikeluarkan organisasi itu DWIJAWARA merupakan tali pengikat
persaudaraan Pangestu.
PAGUYUBAN SUMARAH diprakarsai oleh R. Ng. Sukirno Hartono dari
Yogyakarta. Ia mengaku menerima wahyu pada tahun 1935. Pada akhir tahun
1940 mengalami kemunduran, namun berkembang kembali tahun 1950 di
yogyakarta. Jumlah anggotanya kini sudah mencapai 115.000 orang baik
yang berasal dari golongan priyayi maupun dari kelas-kelas masyarakat
lain.
SAPTA DARMA adalah yang termuda dari kelima gerakan kebatinan yang
terbesar di jawa yang didirikan pada 27 Desember tahun 1952 oleh
Hardjosapuro yang kemudian mengganti namanya menjadi Panuntun Sri
Gutomo. Beliau berasal dari desa Keplakan, Pare, Kediri. Berbeda dengan
keempat organisasi yang lain, SAPTA DARMA beranggotakan orang-orang dari
daerah pedesaan dan orang-orang pekerja kasar yang tinggal di
kota-kota. Walaupun demikian para pemimpinnya hampir semua priyayi. Buku
yang berisi ajarannya adalah KITAB PEWARAH SAPTA DARMA.
AJARAN SAPTA DARMA
Pemeluk SAPTA DARMA mendasarkan apa saja yang dilakukan sebagai suatu
ibadah, baik makan, tidur, dan sebagainya. Tetapi ibadah utama yang
wajib dilakukan adalah SUJUD, RACUT, ENING dan ULAH RASA. SUJUD, adalah
ibadah menyembah Tuhan; sekurang-kurangnya dilakukan sekali sehari.
RACUT, adalah ibadah menghadapnya Hyang Maha Suci/Roh Suci manusia ke
Hyang Maha Kuwasa. Dalam ibadah ini, Roh Suci terlepas dari raga
manusia untuk menghadap di alam langgeng/surga. Ibadah ini sebagai bekal
perjalanan Roh setelah kematian. ENING, adalah semadi, atau
mengosongkan pikiran dengan berpasrah atau mengikhlaskan diri kepada
Sang Pencipta. ULAH RASA, adalah proses relaksasi untuk mendapatkan
kesegaran jasmani setelah bekerja keras/olah raga.
Warga Sapta Darma tidak membicarakan surga dan neraka, tetapi
mempersilahkan warga Sapta Darma untuk melihat sendiri adanya surga dan
neraka tersebut dengan cara racut. Kejahatan, kesemena-menaan, dan
sebagainya mencerminkan neraka dengan segenap reaksi yang
ditimbulkannya. Begitu juga dengan kebaikan seperti bersedekah,
mengajarkan ilmu, menolong sesama mencerminkan surga.
SAPTA DARMA lebih fokus pada pengembangan budi pekerti yang saat ini
semakin terdegradasi di negeri kita. Seperti tawuran pelajar ada di
mana-mana, pemerkosaan terhadap anak-anak dan perempuan, perdagangan
manusia, semua terjadi hampir tiap hari. Semua catatan segala
penyimpangan akan terus bertambah dan barangkali bisa menjadi daftar
panjang tidak berkesudahan. Belum lagi apabila ditambah dengan korupsi
yang dilakukan para politikus dan pejabat negeri ini.
Salah satu upaya untuk memperbaiki situasi adalah dengan terus
menumbuhkembangkan budi pekerti sebagaimana yang dilakukan oleh aliran
kerohanian Sapta Dharma. Inti dari ajaran aliran yang asal-muasalnya
dari tanah Jawa itu adalah menyelaraskan kehidupan manusia dengan alam,
sesama, dan Sang Maha Pencipta.
Ketua Badan Pengurus Yayasan Srati Dharma Pusat Yogyakarta
Subiyantoro mengungkapkan, aliran yang intinya pada penggalian budi
pakarti luhur itu diterima kali pertama oleh Hardjosapuro yang setelah
menerima wahyu bergelar rohani Sri Gutomo pada Desember 1952 di Pare,
Kediri.
Dikisahkan saat proses awal Hardjosapuro menerima wahyu. Sewaktu dia
Waktu itu, dia merasa tidak enak badan, lantas mengambil tikar dan
berusaha tidur di lantai. Tiba-tiba dia merasakan suatu getaran hebat
dan tergerak untuk menghadap ke timur. Di tengah-tengah situasi
menggetarkan itu, dia beberapa kali merasa meneriakkan sesuatu. Setelah
mengalami peristiwa aneh, dia kemudian menceritakan kepada
teman-temannya.
Semula tidak ada yang percaya tetapi setelah semua ikut mengalami
akhirnya percaya bahwa ada kekuatan yang mendorong mereka untuk
menumbuhkembangkan budi pekerti luhur. Bukan sebatas itu, yang fenomenal
adalah
di tembok rumah Harjosapuro muncul gambar-gambar dan
tulisan yang kelak menjadi lambang, nama, serta ajaran-ajaran pokok
Sapta Dharma.
Semenjak itulah, berkembang aliran kerohanian yang bernama Sapta
Dharma hingga kini sudah tersebar di seluruh propinsi di Indonesia.
Menurut Subiyantoro ajaran SAPTA DARMA terbuka bagi siapa saja dengan
latar belakang berbeda-beda. Tidak ada diskriminasi dalam ajaran
kerokhanian tersebut. Dijelaskan Subiyantoro, Ritual SAPTA DARMA adalah
Ritual Sujud seperti layaknya orang berdoa untuk melakukan penggalian
rohani. Dalam sujud tersebut, para penganut meluhurkan Allah yang
Mahakuasa, mengakui kesalahan dan bertobat tidak melakukan kesalahan
lagi.
SETIAP KALI SUJUD, SESEORANG BISA MEMAKAN WAKTU 1,5 JAM BAHKAN LEBIH.
WAKTU TIDAK BISA MEMBATASI SESEORANG HARUS SELESAI SUJUD, TERGANTUNG
PADA GETARAN YANG MEREKA RASAKAN. PADA TAHAPAN TERTENTU, SESEORANG BISA
BERUBAH POSISI DARI SEMULA DUDUK BERSILA PERLAHAN-LAHAN TERTUNDUK SAMPAI
KEPALA MENYENTUH LANTAI. “Ajaran Sapta Darma yang pada intinya budi
pekerti luhur memang untuk menumbuhkan pikiran, sikap, dan perilaku
berbudi pekerti luhur setiap insan,” tuturnya.
Sujud dan Dua Belas Saudara
Dalam sujud manembah yang telah diuraikan
Turunnya getaran dari kepala benar dirasakan
Terutama sewaktu melintasi jalur di dada
Tempat adanya bentuk tiga belah ketupat
Satu di atas, satu di tengah, dan satu di bawah
Yaitu yang disebut dengan istilah radar
Maka pada tiap belah ketupat itu
Terdapat getaran-getaran perwujudan
Dari sifat khusus kedua-belas saudara
Getaran berwarna hitam adalah aluwamah
Yang merah amarah, kuning suwiyah, putih mutmainah
Adapun letak dan sifat dua belas saudara itu demikian:
Hyang Maha Suci di ubun-ubun, sarana untuk menghadap
Hyang Maha Kuwasa dalam sujud dan dalam hening
Premana di dahi di antara kedua mata, untuk melihat
Segala hal yang tak tampak oleh mata biasa
Jatingarang atau Suksmajati di bahu kiri tempatnya
Gandarwaraja di bahu kanan dan bersifat kejam
Sering bertengkar serta tamak
Brama di tengah, senang marah sifatnya
Bayu di dada kanan, cirinya adalah keteguhan
Endra di dada kiri dan berpembawaan malas
Mayangkara di pusar, seperti kera suka mencuri
Merampas, mengejek, dan menghina
Suksmarasa di pinggang kiri dan kanan
Memiliki sifat halus perasaan
Suksmakencana di tulang tungging
Pengaruhnya pada gairah kebirahian
Nagatahun atau Suksmanaga di tulang belakang
Seperti ular sifatnya berbelit-belit dan berbisa
Baginda Kilir atau Nur Rasa bergerak sifatnya
Letaknya di ujung jari dan dapat digunakan
Oleh warga untuk menyembuhkan penyakit
Maka dalam sujud Sapta darma
Segala sifat saudara yang baik itu
Dikembangkan kepada kesempurnaan
Dan sifat saudara yang buruk
Diruwat agar menjadi tawar
Demikianlah ajaran Sapta Darma
Yang datang dari Panuntun Agung Sri Gutomo
Baik untuk didengar, dipahami, dan dijalankan
Supaya dapat seseorang menjadi satria berbudi
Yang berpegang pada Wewarah Tujuh dan Sesanti:
Ing ngendi bae Warga Sapta Darma
Kudu sumunar pinda baskara!
Dengan demikian para warga itu
Sesungguhnya juga mengikut pada petuah:
Sepi ing pamrih rame ing gawe!